Kamis, 08 November 2012

GURU BERKARAKTER UNTUK PENDIDIKAN BERKARAKTER


         Kekerasan bagi peserta didik yang kerap dilakukan oleh oknum guru tidak boleh dianggap remeh karena dapat merusak masa depan pendidikan bangsa. Karena bagaimanapun orang tua akan mulai ragu untuk mendaftarkan putra-putrinya di sekolah-sekolah formal terutama sekolah yang salah satu gurunya menjadi oknum kekerasan pada siswa. Mereka menginginkan putra-putrinya belajar dengan tenang tanpa khawatir akan adanya ancaman intimidasi dari oknum guru yang tidak terpuji tersebut.
            Bertolak dari hal itu, tentu kita masih ingat program pemerintah tentang “Pendidikan Karakter” yang  mulai digalakkan tahun 2010 lalu. Bahkan di semua buku pelajaran terbitan terbaru  banyak dijejali petuah-petuah yang diharapkan mampu memperbaiki karakter siswa sehingga mereka memiliki karakter yang lebih baik. Namun, apakah pendidikan karakter bisa dipelajari secara tekstual yang bisa diperoleh dari buku-buku tersebut?. Apakah tidak pernah terpikirkan bahwa gurulah yang memiliki peran besar dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah?. Guru adalah aktor utama dalam berlangsungnya kegitan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Tentunya merekalah yang sering berinteraksi dengan siswa, dan mereka juga yang dijadikan panutan dan teladan bagi siswa.
Dalam M. Furqon Hidayatullah (2010 : 25) dijelaskan bahwa guru berkarakter bukan hanya mampu mengajar tetapi ia juga mampu mendidik. Ia bukan hanya mampu mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi ia juga mampu menanamkan nilai-nilai yang diperlukan untuk mengarungi hidupnya. Ia bukan hanya memiliki kemampuan yang bersifat intelektual tetapi yang memiliki kemampuan secara emosi dan spiritual sehingga guru mampu membuka hati peserta didik untuk belajar, yang selanjutnya ia mampu hidup dengan baik di tengah-tengah masyarakat.
 Lalu apakah guru-guru yang kita miliki saat ini sudah memenuhi kriteria yang dikemukakan tadi, mengingat masih banyaknya oknum guru yang melakukan perbuatan yang tidak mencerminkan guru yang berkarakter. Kurikulum di perguruan tinggipun masih belum bisa  melahirkan guru-guru yang berkarakter, Belum lagi  persolan birokrasi terkait penyimpangan dalam seleksi peneriamaan guru baru.
Maka sangat perlu adanya kesadaran  para stakeholders di negeri ini. mereka harus mampu membaca kelemahan di segala lini. Mereka juga harus benar-benar menyiapkan guru-guru yang memang memiliki kompetensi untuk membangun karakter peserta didik. Untuk itu mereka harus benar-benar selektif dalam memilah dan memilih para calon pahlawan tanpa tanda jasa tersebut. Perguruan tinggi juga harus merombak kurikulum demi mencetak guru-guru professional yang memiliki kecerdasan  intelektual, emosional dan spiritual yang baik. Serta melakukan berbagai macam pelatihan dalam berbagai kesempatan.
Tentu kita berharap pendidikan karakter ini mampu berjalan dengan baik demi masa depan bangsa. Untuk itu mari kita bersinergi untuk benar-benar membangun pendidikan. Agar menjadi langkah awal untuk mengembalikan nilai-nilai luhur yang sudah mulai menghilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar