Istilah dugem (dunia gemerlap) menjadi sangat populer di Kabupaten
Pamekasan terutama saat perayaan hari besar seperti perayaan malam tahun
baru. Dari anak-anak hingga kalangan elit politik pun membicarakannya.
Entah dari mana awalnya istilah itu begitu akrab di telinga
masyarakat Pamekasan yang selama ini menjunjung tinggi syariat islam
dalam bertutur maupun bertingkah. Yang pasti dugem menjadi persoalan
pelik yang harus segera ditangani.
Pesta dugem mulai merebak di Kota Pendidikan ini sekitar dua tahun
lalu, bermula dari takbir keliling yang kemudian berubah menjadi house
music di jalan raya. Berbagai karya Disc Joky (DJ) mereka putar
menggunakan sound system diatas truk.
Bahkan, aksi dugem seperti menjadi kegiatan wajib muda-mudi Pamekasan
di setiap perayaan hari besar. Meski himbauan dan larangan sudah
disampaikan, namun puluhan truk lengkap dengan sound system tetap
mengular di setiap sudut kota.
Ironisnya lagi, anak di bawah umur pun ikut serta berpesta ria,
berdandan segala rupa menyerupai artis ibu kota. Bahkan wanita-wanita
muda berpenampilan tak senonoh menari diatas truk mengabaikan dosa.
Aksi yang demikian itu tentunya sangat bertolak belakang dengan
semangat Gerakan Membangun Masyarakat Islami (Gerbang Salam) yang selama
ini sudah melekat dan menjadi simbol kota Pamekasan.
Bahkan, bisa dikatakan semangat gerbang salam gagal diterima. Entah
karena gagalnya penanaman pendidikan moral atau lemahnya pemuda dalam
menangkal masuknya budaya luar ke bumi gerbang salam, tentunya itu masih
menjadi tanda tanya.
Tetapi, kita berharap fenomena itu bisa disikapi dengan baik dan
tepat oleh pemerintah daerah sebagai penanggung jawab utama rusaknya
moral pemuda Pamekasan. Sebab jika hanya himbauan dan larangan tidak
akan membuahkan hasil.
Mereka perlu diarahkan dan dialihkan dengan menanamkan pendidikan
moral sejak dini dan memberikan hiburan yang lebih bermanfaat dari
sekedar berkonvoi dan berdugem di jalan raya. Karena diakui atau tidak
mereka juga manusia yang butuh hiburan.
Peraturan daerah (perda) tentang hiburan juga harus segera
diselesaikan sehingga para penegak hukum punya pijakan dalam mengambil
tindakan. Hal itu juga agar memperjelas definisi hiburan mana yang
dilarang atau tidak.
Tentunya peran serta masyarakat dan para orang tua dalam memproteksi
muda-mudi dari pergaulan yang salah juga sangat dibutuhkan guna meredam
aksi dugem yang selama ini telah membisingkan kota Gerbang Salam.(*)
CORETAN PENA
Minggu, 02 Agustus 2015
Sabtu, 29 November 2014
Membangun Sumber Daya Manusia (SDM) Masyarakat Madura
Sejak
diresmikan pada 10 Juni 2009 oleh Presiden Sulilo Bambang Yudhoyono , jembatan
Suramadu terus menjadi perhatian publik. Pasalnya jembatan yang menghubungkan
pulau Madura dengan Surabaya tersebut menjadi jembatan terpanjang di Asia
Tenggaran dengan panjang mencapai 5,4 meter. (tempo.co, Rabu, 10 Juni 2009)
Sejak saat
itu, banyak wisatawan domestik maupun mancanegara berbondong-bondong
mengunjungi jembatan suramadu untuk sekedar lewat dan menikmati sensasi
berkendara di atas laut. Bahkan tak jarang
mereka berhenti di tengah –tengah jembatan untuk sekedar berfoto. Sehingga jembatan
Suramadu menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi di jawa
Timur (detik.com, Kamis, 14 Maret 2013).
Bagi masyarakat
Madura, dibangunnya jembatan Suramadu menjadi tantangan yang cukup berat. Pasalnya
dengan dibangunnya jembatan itu, arus transportasi semakin cepat. Sehingga budaya
dari luar akan semakin mudah masuk ke pulau Madura. Kehidupan sosial dan ekonomi
masyarakat juga akan berubah seiring perkembangan zaman.
Di sinilah peran
Badan Pengembangan Wilayah Surabaya – Madura (BPWS) dibutuhkan untuk merencanakan
pembangunan Madura pasca dibangunnya Suramadu. Selain pembangunan infrastuktur
yang selama ini kerap dilakukan oleh BPWS. Maka juga dibutuhkan pembangunan
sumber daya manusia (SDM) masyarakat Madura mengingat masih rendahnya indeks
prestasi manusia (IPM) empat kabupaten di Madura.
Pembangunan sumber
daya manusia (SDM) dapat dilakukan dengan membekali masayarakat Madura dengan berbagai
keahlian (skill). Seperti pelatihan pengembangan produk usaha dengan teknologi
yang modern. Juga menanamkan jiwa enterprenuership kepada anak muda Madura dengan
menggelar pelatihan kewirausahaan yang melibatkan perguruan tinggi yang ada di Madura.
Selain itu
yang perlu dilakukan oleh BPWS adalah memberikan pelatihan kepada kelompok
masayarakat untuk bisa membuat kerajinan khas masing-masing daerah sehingga
bisa dipasarkan di tempat wisata yang nantinya juga akan dibangun oleh BPWS
dengan harapan bisa menumbuhkan ekonomi masyarakat setempat.
Yang tidak
kalah pentingnya adalah mendukung perkembangan pendidikan di Madura dengan
memberikan bantuan beasiswa kepada anak yang berbakat dengan catatan setelah
lulus dari perguruan tinggi bisa kembali ke daerahnya dan ikut membangun
Madura. sebab saat ini masih banyak anak muda yang memiliki keahlian di
berbagai bidang justru berdomisili di luar Madura.
Tentunya kita
berharap BPWS mampu berperan aktif untuk perkembangan Madura kedepannya dengan
merangkul semua lapisan masyarakat yang ada di Madura.
Sabtu, 19 Oktober 2013
SI KECIL MUNGIL TANPA BELAS KASIHAN
Si kecil itu...
Tubuhnya mungil...
Menggigil...
Melawan dingin...
Melawan kerasnya hidup..
Hingga rembulan redup...
Si kecil itu...
Hanya bisa tertunduk
Hingga malam suntuk...
Melawan kantuk...
Menjajakan dagangan...
Untuk sebutir makanan...
Sementara disana..
Si orang tua tanpa rasa iba...
Menghardiknya...
Mempekerjakannya...
Laksana babu...
Kasih sayang...
Kelembutan...
Manisnya hidup...
Tenggelam bersama gelapnya malam...
Disudut kota bersama keramaian...
Surabaya, 18 Oktober 2013
PROBLEMATIKA TEMBAKAU DI MADURA
Daun emas, begitulah
masyarakat Madura sering menyebut dan menamai daun tembakau. Entah apa alasannya mereka memberikan embel –
embel emas pada daun penghasil zat nikotin tersebut, mungkin karena tembakau
mampu memberikan keuntungan yang cukup besar sehingga istilah daun emas dianggap layak disematkan pada
daun tembakau.
Di Negara kita sebenarnya sudah ada lembaga khusus yang membidangi perihal iklim maupun cuaca yakni Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau yang lebih dikenal dengan BMKG. Namun sejauh ini peranannya dalam memberikan informasi tentang iklim maupun cuaca kepada petani sangatlah minim. Hampir dipastikan sejumlah petani di berbagai daerah masih menggunakan prediksinya sendiri.
Tembakau sendiri tidak diketahui secara
pasti asal muasalnya, namun para ilmuwan percaya bahwa tanaman tersebut tumbuh
di benua Amerika sekitar 6000 tahun SM, yang diperkiran mulai dikomsumsi oleh
penduduk asli Amerika pada awal Masehi. Yang kemudian masuk ke Indonesia
sekitar abad ke 17 atau seiring dengan masuknya bangsa portugis ke Nusantara. (Divine Kretek, Rokok Sehat halaman 49 & 67).
Bagi masyarakat Madura sendiri, bertani tembakau menjadi kebiasaan yang turun
– temurun, bahkan harapan keuntungan yang cukup besar digantungkan pada tanaman
yang menjadi bahan baku pembuatan rokok tersebut. Tentu tidak hanya alasan
komersil, semangat kebersamaan ditunjukkan saat petani secara bergotong –
royong melinting hingga merajang daun tembakau sebagaimana diperlihatkan di
kampung – kampung.
Namun dalam beberapa tahun terakhir,
bertani tembakau sudah mulai tak menjanjikan bagi petani, persoalan cuaca yang
tak bersahabat ataupun persoalan regulasi di sejumlah daerah yang tak kunjung
selesai semakin menambah kegalauan petani tembakau. Belum lagi sejak disahkannya
Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Tembakau pada 24 Desember 2012 semakin mempersempit ruang bagi tembakau di negeri ini.
Di Pamekasan
misalnya, regulasi tentang tata niaga tembakau sebagaimana diatur dalam
peraturan daerah (Perda) No. 6 tahun 2008 oleh sejumlah aktivis dipandang masih
belum memihak pada petani. Hal itu membuat aktivis PMII Pamekasan ngeluruk
dewan dan menuntut Bupati Pamekasan segera menetapkan standart harga termasuk juga
melakukan revisi terhadap sejumlah pasal pada Perda tersebut.(deliknews.com Edisi Rabu 2 Oktober 2013)
Persoalan lain
yang menarik di Madura adalah menurunnya produksi tembakau tahun ini, sebagaimana
diberitakan tempo.co pada 31 Agustus 2013 produksi tembakau di
pamekasan mencapai 10% dari total 29 ton kuota normal per
tahunnya. Tempo juga mencatat hal
yang sama di Kabupaten Sumenep, seperti yang diberitakan pada 6 September 2013, ada sekitar 4000
hektare tanaman tembakau petani gagal panen dan hanya mampu mencapai 40 % dari
target 10 – 11 ribu ton per hektare. Anomali cuaca disebutkan sebagai penyebab
menurunannya jumlah produksi tersebut.
Masalah cuaca memang menjadi
persoalan tersendiri bagi petani. Padahal cuaca yang baik akan berbanding lurus
dengan kualitas tembakau dan hasil produksi. Maka sudah seharusnya jika
petani tahu banyak perihal seluk beluk
cuaca. Sebagaimana kita ketahui tanaman tembakau merupakan jenis tanaman yang
tumbuh di musim kemarau yang biasanya berlangsung mulai April hingga September.
Namun patokan tersebut tak selalu benar karena terjadi pergeseran musim beberapa
tahun terakhir.
Di Negara kita sebenarnya sudah ada lembaga khusus yang membidangi perihal iklim maupun cuaca yakni Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau yang lebih dikenal dengan BMKG. Namun sejauh ini peranannya dalam memberikan informasi tentang iklim maupun cuaca kepada petani sangatlah minim. Hampir dipastikan sejumlah petani di berbagai daerah masih menggunakan prediksinya sendiri.
Tentu kita tidak boleh terlalu
menyalahkan BMKG karena sebetulnya di sejumlah daerah sudah ada beberapa
instansi pemerintah yang memiliki tanggung jawab memberikan penyuluhan terhadap
petani. Seharusnya instansi tersebut menjadi jembatan untuk mensosialisasikan prediksi
cuaca atau musim oleh BMKG kepada petani melalui kelompok – kelompok tani yang
ada, agar para petani tidak salah dalam memulai masa tanam tembakau mereka.
Kita berharap ke depan ada perhatian
khusus dari pemerintah terhadap para petani tembakau termasuk menyediakan
regulasi yang pro rakyat serta penyediaan informasi yang memadai guna
meningkatkan kualitas dan hasil produksi dan tentunya akan memberikan
kesejahteraan kepada petani.
Dimuat di Harian Kabar Madura Edisi 16 Oktober 2013
Langganan:
Komentar (Atom)